Jumat, 22 Oktober 2010

Beternak Sambil Memelihara Hutan Lindung



-------------------------------------------
Oyos Saroso H.N.
Sendangagung, Lampung Tengah
-------------------------------------------
Penerusan Manfaat: belajar berbagi.
Ribuan warga (700-an kepala keluarga) di Desa Sendangasih dan  Sendangbaru, Kecamatan Sendangagung, Kabupaten Lampung Tengah kini tak lagi cemas jika musim paceklik datang. Warga yang tinggal di sekeliling hutan lindung Register  22 Way Waya itu, akan tetapi bisa makan nasi tiga kali sehari meskipun musim paceklik.  Itu karena mereka bisa memperoleh nafkah dari hasil hutan dan ternak.

Hutan lindung Way Waya memiliki luas sekitar lima ribu hektare dan berada di Kecamatan Sendangagung dan Pubian. Hutan yang pernah terbakar pada tahun 1996 itu kini sudah tampak kembali lestari karena dipelihara warga desa dengan program Hutan Kemasyarakatan (HKm). Kini warga desa makin bersemangat menyelamatkan hutan karena juga mendapatkan bantuan ternak secara bergulit.

Sebanyak 700 keluarga penerima bantuan itu menerima hewan peliharaan sesuai dengan pilihannya.Ada yang memilih mendapatkan sapi, ada yang memilih kambing, ada juga yang memilih itik. Setiap keluarga menerima satu sapi atau 3 kambing atau 33 itik.

Dari puluhan itik dan dua ekor sapi yang mereka pelihara, warga bisa mendapatkan penghasilan tambahan selain sebagai petani. “Dari 33 ekor itik, kalau sedang saatnya bertelur bisa lebih dari 20 ekor yang tiap hari bertelur. Telur-telur itik itulah yang membantu penghasilan keluarga,” kata Kasiah, 39 , warga Sendangasih.

Kasiah adalah satu dari 300 orang warga Sendangagung yang menerima bantuan itik bergulir dari Heifer International Indonesia dan Elanco. Heifer Internasional merupakan lembaga nirlaba, sementara Elanco adalah produsen pakan ternak. Keduanya  berasal dari Amerika Serikat.

Suratmi dan keluarga lain penerima bantuan itik maupun bantuan sapi terpilih sebagai penerima bantuan bukan semata-mata karena mereka miskin. Mereka menerima bantuan karena dianggap sudah memiliki komitmen untuk melestarikan hutan di sekitar desa dan siap memberikan bantuan kepada keluarga lain. Selain mendapatkan binaan dari NGO lokal, para penerima bantuan ternak juga mendapatkan pelatihan tentang cara-cara memelihara dan memasarkan hasil ternak.

“Kami sekarang sedang belajar membuat telur asin. Kami berharap, dengan menjual telur asin hasilnya lebih baik. Harga telur itik mentah hanya Rp 1.000/butir, sementara telur asin harganya Rp 2.000/butir,”  kata Suratmi.

Meredith Rolf, International Resource Development Officer Heifer International, mengatakan program bantuan ternak bergulir itu dilakukan tidak semata-mata untuk membantu ketahanan pangan masyarakat miskin di daerah terpencil di sekitar hutan. “Program ini juga untuk mengembangkan semangat kemandirian dan kegotongroyongan sambil terus memelihara kelestarian hutan,” kata dia.

Menurut Rolf ternak yang dipelihara penduduk di sekitar hutan akan menjadi alat utama untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Kalau warga di sekitar hutan sejahtera, maka mereka tidak akan masuk hutan dan mengambil kayu. Apalagi mereka kini juga ikut program hutan kemasyarakatan,” “ujar Meredith.

Budi Rahardjo, Direktur Heifer International untuk wilayah Indonesia, mengatakan dengan memelihara sapi, kambing, dan itik diharapkan masyarakat desa di sekitar hutan Register Way Waya bisa memenuhi kebutuhan gizinya. “Selain dimanfatkan kotorannya, sapi juga bisa diambil susunya. Sementara itik bisa menghasilkan telur tiap hari,” kata dia.

Menurut Raharjo meskipun baru setahun berlangsung, kini warga  desa penerima bantuan sudah menunjukkan kemandirian dan kegotongroyongan. Sudah ada beberapa keluarga yang bisa memberikan hewan piaraannya kepada keluarga lain. Ini menunjukkan bahwa orang miskin pun bisa membantu orang lain. Kami menyebut prinsip berbagi secara bergulir itu sebagai asas penerusan manfaat. Kami mengajari orang miskin untuk mandiri dan memiliki harga diri,” dia.

Raharjo mengatakan selain mendapatkan bantuan, warga desa juga belajar lagi tentang pentinnya nilai-nilai kearifan lokal untuk mendukung  transformasi sosial. “Kami cukup gembira karena warga desa di Kecamatan Sendangagung itu kini makin akrab dan melakukan gotong royong untuk beberapa pekerjaan. Misalnya mereka bergotong royong menyelamatkan hutan, bergotong royong memelihara danau, dan gotong royong membangun rumah,” kata Raharjo.

Telaga Sendangasih dengan latar belakang hutan Register Way Waya
Puluhan warga yang dulu rumahnya geribik, kini sudah memiki rumah permanen karena mereka melakukan arisan rumah. “Warga yang ingin rumahnya diperbaiki hanya menyediakan kayu dan batu-bata, sedangkan semen, pasir, dan tenaga mendapatkan bantuan dari warga lain,” kata Iwan Darmawan, warga Sendangasih.

Robin Readnour, Senior Director of Product Development Elanco,mentgatakan  program pemberian ternak bersifat berkelanjutan. “Ini akan terus bergulir seperti efek bola salju. Di Indonesia kami menargetkan 2.100 keluarga menerima manfaat bantuan ini. Kalau mereka sudah berhasil, selanjutnya mereka akan memberikan bantuan kepada warga lain yang membutuhkan. Sampai sekarang baru 700 keluarga yang mendapatkan bantuan. Sisanya (1.400 keluarga) dapat dicapai dengan cara penerusan manfaat," kata Readnour.


Medy Loekito, “Ibu” Penyair Muda Indonesia


------------------
Oyos Saroso H.N.
Bandarlampung
------------------ 


Tidak banyak sastrawan Indonesia yang mau mengurusi sastrawan lain. Di antara yang sangat sedikit, Medy Loekito, 47, adalah salah satunya. Sebagai sastrawan, ia tidak bekerja keras untuk membangun karier kesastrawanannya sendiri, tetapi juga mengurus banyak sastrawan lain lewat Komunitas Sastra Indonesia (KSI).

Kini, Medy Loekito bukan hanya terkenal menjadi sebagai salah satu penyair wanita Indonesia, tetapi juga dikenal sebagai “Ibu Sastrawan Muda”. Itu karena Medy sangat telaten membangun lembaga KSI sebagai wadah bagi sastrawan muda yang mulai belajar sastra. Medy juga dikenal sebagai “Ibu Komunitas Penyair Cyber” dan pendiri Yayasan Multimedia Sastra, yang kegiatannya meluncurkan situs sastra, menerbitkan buku sastra dan menyumbangkannya ke sekolah-sekolah dan anak-anak jalanan.

“Sebenarnya KSI bukan hanya berisi sastrawan muda. Di KSI juga banyak sastrawan ternama seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Endang Supriyadi, Slamet Raharjo Rais, dan Diah Hadaning. Bahkan almarhum penyair Azwina Aziz Miraza dulu juga aktif di KSI,” kata dia.

Medy Loekito mengaku ide awal membentuk KSI pada tahun 1996 adalah untuk mengumpulkan komunitas sastra di Indonesia yang pada zaman Orde Baru “berserak” seperti tidak terurus. Para penggiat komunitas sastra yang tersebar dari Aceh hingga Papua para umumnya adalahh sastrawan muda yang sulit untuk mengekspresikan diri karena terhegemoni oleh pusat-pusat kesusasteraan yang ada di Jakarta.

“Pada saat itu para sastrawan muda  sangat susah menembus Taman Ismail Marzuki (TIM). Bahkan, sekadar numpang diskusi di emperan TIM saja susah. Kini, setelah berproses selama belasan tahun terbukti sastrawan muda Indonesia banyak yang karya-karyanya berkualitas,” kata sastrawan yang juga aktivis Asosiasi Pengrajin Handycraft Indonesia ini.

Medy mengaku organisasi semacam KSI penting untuk menumbuhkan kepercayaan orang-orang muda. “Kami jemput dan berjalan bersama menghadapi hujan. Kita sediakan rumah untuk mereka berteduh.  Selain mendampingi, organisasi juga mengajarkan anggota untuk saling menghormati dan saling mendukung. Kenapa ini penting? Karena saya lihat, beberapa sastrawan Indonesia mendudukkan diri mereka di kursi yang tinggi. Apabila penulis muda mengikuti gaya ini, maka sastra kita akan penuh dengan pertempuran, tidak ada saling dukung, tidak ada saling hormat, dan sayang,” ujar ibu dua anak ini.

“Tak Sengaja” Jadi Sastrawan
Medy Loekito juga termasuk bagian dari sangat sedikit etnis Cina di Indonesia yang menekuni dunia sastra. “Saya masuk ke dunia sastra secara tak sengaja. Tahun 1976, ketika saya berusia belasan tahun, saya bersahabat pena dengan Kardy Syaid—sastrawan yang kini terkenal sebagai sineas dan penulis—yang berada jauh di Sumatera Utara. Dia tak henti-hentinya menulis dan mengirimkan hasil karyanya yang dimuat di koran atau majalah. Ia selalu meyakinkan saya bahwa saya juga bisa menjadi pengarang,” ujarnya.

Karena dorongan yang terus-menerus dari Kardy Said, Medy yang ketika itu masih remaja belajar menulis puisi. “Suatu hari, saya menulis puisi, dan dimuat koran. Buat lagi, dimuat koran lagi. Setelah beberapa kali puisi, saya coba buat cerpen, masuk koran juga. Nah, setelah itu, ya sudah. Uji coba saya sudah selesai, karena memang idenya cuma menjajagi kemampuan saja,” kata dia.

Tidak seperti kebanyakan warga etnis Cina lain di Indonesia yang umumnya mendorong anaknya menekuni dunia bisnis, orang tua Medy justru mendorong anaknya untuk menekuni dunia sastra. Buktinya, ayah Medy mau bersusah payah mengecek apakah kiriman puisi yang dikirim Medy sudah dimuat di Koran atau belum.

“Ayah saya yang selalu cek di penjual koran kaki lima. Sebab kan kita tak pernah diberitahu apakah tulisan kita akan dimuat atau tidak, dan lagipula, agak berat untuk beli macam-macam koran setiap hari,” tambahnya.

Medy mengaku meskipun beretnis Tionghoa, di dunia sastra ia tidak pernah merasa mengalami diskriminasi. “Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa saya Tionghoa. Yang pasti saya merasa enjoy bisa berkawan baik dengan semua sastrawan dari berbagai etnis di Indonesia. Meski begitu, dalam kehidupan sehari-hari diskriminasi terhadap etnis Tionghoa masih ada,” ujar perempuan yang juga berprofesi sebagai sekretaris eksekutif di sebuah perusahaan Jepang ini.

Berkat ketekunannya di dunia sastra, Medy kini tercatat sebagai salah satu penyair perempuan terkuat (terbaik) di Indonesia. Kini ayahnya tidak perlu lagi mengecek apakah puisi Medy dimuat sebuah koran mingguan. Karya-karya Medy tidak hanya pernah dimuat di hampir semua koran dan majalah sastra di Indonesia, tetapi juga diterbitkan dalam belasan buku antologi puisi tunggal dan antologi puisi bersama, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Karya antologi puisi tunggalnya adalah In Solitude ( Penerbit Angkasa, Bandung, 1993) dan Jakarta, Senja Hari (Penerbit Angkasa, Bandung, 1998).

Sementara buku-buku antologi bersama yang memuat karyanya sekitar 20-an buku. Antara lain: Festival Puisi Indonesia XIV (Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika, Surabaya, 1994), Trotoar (penerbit ,Roda Roda Budaya, Tangerang, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Penerbit Angkasa, Bandung, 1997), Resonansi Indonesia, Kumpulan Puisi Indonesia-Mandarin (Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2000), Sembilan Kerlip Cermin” (Pustaka Jaya, Jakarta, 2000),    Dewdrops at Dawn (,The International Library of Poetry, USA, 2000), Graffiti Gratitude (Yayasan Multimedia Sastra & Penerbit Angkasa, Bandung, 2001), Surat Putih (Risalah Badai, Jakarta, 2001), Dari Fanzuri ke Handayani (Majalah Sastra Horison dan The Ford Foundation, Jakarta, 2001), Gelak Esai & Ombak Sajak, Anno 2001 (Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2001), Horison Sastra Indonesia,  (Horison dan The Ford Foundation, Jakarta, 2001), Bisikan Kata, Teriakan Kota (Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, Jakarta, 2003), Selagi Ombak Mengejar Pantai 8 (KEMUDI – Pusat Studi & Pengembangan Kebudayaan Asia, Malaysia, 2004), Maha Duka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005), Les Cyberlettres (Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta, 2005), (Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, 2005), Perempuan Penyair Indonesia 2005 (Risalah Badai & Komunitas Sastra Indonesia, Jakarta, 2005), Le Chant des Villes” (Centre Culturel Français, Jakarta, 2006), Legasi (Warisan Wong Kampung, Malaysia, 2006), Yogya, 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2006), Selendang Pelangi (Penerbit Indonesia Tera, Magelang, 2006), dan The Poetry of Nature (Jakarta , 2007).

Ketekunan Medy menghasilkan sejumlah prestasi internasional. Antara lain sebagai Research Board of Advisors dari “The American Biographical Institute“, USA (1999), menjadi Wakil Republik Indonesia untuk CAFO (Conference of Asian Foundations & Organizations) bidang Kebudayaan (1999, 2000, 2001), tergabung dalam “POET 2000 Sculpted Library”, Dublin, Irlandia (2000), semifinalis “North American Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA (2000), semifinalis “Montel Williams Open Poetry Contest”, The International Library of Poetry, USA (2000), dan menjadi wakil Republik Indonesia untuk “International Writing Program”, Iowa City, USA (2001). Medy juga tercatat dalam International Who’s Who in Poetry and Poets Encyclopedia, The International Biographical Center, Cambridge, Inggris (1999)

Selama di USA pada 2001 Medy melakukan berbagai presentasi tentang sastra Indonesia. Antara lain di University of Iowa, Women Resources and Activity Centre (Iowa City), Public Library of Iowa (Iowa City), Coe College, Cedar Rapids (Iowa), Des Moines Public High School (Des Moines, Iowa), Western Illinois University (Illinois), Hawthorne Elementary School  (Bozeman, Montana), University of Central Florida (Orlando, Florida), dan .di Literary Centre (Washington DC).

Menentang Pornografi
Sebagai perempuan yang menulis karya sastra, Medy menentang pornografi dalam sastra. Bahkan, Medy kemudian dikenal sebagai juru bicara sastrawan yang menentang “vulgarisme seks” dalam sastra Indonesia saat isu sastra porno yang ditulis para sastrawan wanita Indonesia banyak bermunculan.

Medy mengaku ketika menentang pornografi dalam sastra dia mendapatkan banyak kritikan dan tentangan dari para sastrawan terkenal. “Tapi saya tidak takut, karena berbicara merupakan bagian dari hak asasi. Lagi pula, saya meyakini pendapat saya benar. Menurut saya ada perbedaan antara sastra dengan pornografi. Karya sastra yang menampilkan banyak pornografi bukanlah sastra,” perempuan kelahiran Surabaya ini.
 
“Bayangkan kalau kata-kata kotor, seks bebas, dan gaya hidup hedonis dalam karya sastra dibaca anak-anak sekolah yang ada di daerah-daerah. Bayangkan kalau para remaja kita di desa, karena membaca buku-buku tersebut, jadi bebas mengumbar kata yang tak lazim, atau jadi berperilaku kurang lazim, demi mengikuti modernitas, bukankah akan kacau sekali? Indonesia bukanlah Amerika!” kata Medy.

Dalam peta sastra Indonesia, Medy Loekito terkenal sebagai penyair yang menulis puisi-puisi pendek. Itulah sebabnya “Presiden Penyair Indonesia” Sutardji Calzoum Bachri pernah menyebut puisi-puisi Medy Loekito sebagai haiku, yaitu puisi Jepang yang susunannya terdidi atas kalimat yang pendek-pendek.

“Puisi saya adalah puisi diam. Puisi sunyi. Puisi-puisi saya yang pendek-pendek itu sebenarnya tak ada hubungannya dengan siapa yang mempengaruhi, tetapi lebih karena bahasa Indonesia saya kurang baik. Ketika saya kecil dulu, sering kawan main saya tak mengerti saya bicara apa, karena saya bicara campuran macam-macam bahasa. Ada bahasa Cina, Jawa, Melayu. Sampai sekarang pun bahasa Indonesia saya masih kacau luar biasa,” ujar pengakum sastrawan Octavio Paz ini.

Kamis, 21 Oktober 2010

Penyelamat Hutan dari Sendangagung





Oyos Saroso H.N.Sendangagung, Lampung Tengah

Drop out dari Sekolah Dasar dan memiliki masa lalu yang kelam tidak harus membuat seseorang menjadi terpuruk dan tidak berguna bagi orang lain. Hal itu telah dibuktikan oleh Iwan Darmawan, 36, mantan preman di Jakarta yang kini menjadi pendamping masyarakat Desa Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah.

Meskipun tidak tamat SD dan bekas preman di Jakarta, Iwan Darmawan kini bisa menjadi pendorong dan inspirator bagi banyak warga desa di Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah untuk menjaga hutan lindung Register 22 Way Waya. Iwan tidak hanya telah berhasil melakukan peningkatan kapasitas dirinya, tetapi juga berhasil mengajak semua warga di desanya untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Bendungan penampungan air seluas 60 x 120 meter itu sumber airnya berasal dari hutan Register 22 Way Waya seluas sektitar 6.000 ha yang mengitari Desa Sendang Asih. Berkat ketekunan Iwan sejak akhir dekade 1990-an yang bekerja tanpa pamrih untuk menyelamatkan Telaga Sendang Asih di Desa Sendang Asih, kini para petani bisa mengairi sawahnya meskipun sedang musim kemarau. Petani yang semula hanya sekali panen dalam setahun, kini bisa tiga kali panen.

“Kalau hutannya lestari, maka air di bendungan akan cukup untuk mengairi sawah. Saya dan kawan-kawan tinggal membagi kepada para petani yang memerlukan air itu untuk mengairi sawah,” kata Iwan.

Iwan mengaku karena bekerja sukarela, maka dia tidak digaji oleh pemerintah atau para petani pemilik sawah. “Tapi terkadang pada musim panen, beberapa petani berterima kasih kepada saya dan memberi beberapa kilogram gabah,” ujarnya.

Menyadari arti pentingnya kelestarian hutan bagi kehidupan masyarakat desa kini dan masa-masa mendatang, Iwan Darmawan menggalang dukungan warga desa untuk menyelamatkan hutan. Caranya antara lain dengan menyosialisasikan arti pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat desa sehingga warga mau suka rela menyelamatkan hutan. Hasilnya: bukan hanya air yang lancar mengairi sawah-sawah petani, tetapi juga terjaganya kelestarian hutan lindung Register 22 Way Waya.
Menjelang Magrib: Iwan di Tepi Sendang (Danau) Sendangagung

“Kepada warga desa saya selalu mengatakan bahwa hutan di sekitar desa merupakan sumber kehidupan yang sangat berharga bagi warga desa untuk saat ini dan masa mendatang. Sebab itulah hutan harus dijaga,” kata Iwan Darmawan.

Kerja keras Iwan membuat beberapa NGO lingkungan di Lampung dan Heifer International memberikan kepercayaan kepada ayah empat anak ini untuk menjadi fasilitator community di desanya. Iwan juga dipercaya Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Tengah untuk menjadi sukarelawan penyelamat hutan.Tugas Iwan antara lain memberikan penyuluhan dan memperbanyak kelompok dukungan untuk menyelamatkan hutan.

Berkat keuletan Iwan, kini di Desa Sendang Asih sudah terbentuk beberapa Kelompok Tani Pelindung Kawasan Hutan (KTPKH). Sambil menyelamatkan hutan para anggota kelompok juga belajar memanfaatkan hasil hutan tanpa melakukan perusakan. Mereka melakukannya dengan ikut program Hutan Kemasyarakatan (HKm).

Di kawasan HKm itu warga menanam pohon nonkayu (pohon yang tidak boleh ditebang dan diambil kayunya) sambil berkebun. Pohon nonkayu yang ditanam di kawasan HKm Register Way Waya antara lain pohon durian, pinang, petai, dan aren. Sementara tanaman kebunnya antara lain pohon pisang dan sayuran.

Dari hasil pohon nonkayu itu warga belajar membuat usaha home industry dengan memanfaatkan hasil hutan. Misalnya, keripik pisang, madu, gula aren, dan melinjo. “Bersama KPTKH, saya juga mengajari warga membuat emping melinjo dan keripik pisang. Kini kami sedang membuat perpustakaan sederhana agar anak-anak remaja di desa kami gemar membaca,” kata Iwan.

Kerja keras Iwan menjadi perhatian Pemda Provinsi Lampung, yang kemudian memberikan pengharagaan kepaa Iwan sebagai tokoh desa penyelamat lingkungan hidup. Pada tahun 2008 Iwan juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Kehutanan Pada 2008 sebagai penyelamat lingkungan.

Berkat kerja keras Iwan, warga desa juga bisa diorganisir untuk kembali menumbuhkan semangat kegotongroyongan warga desa. Antara lain dengan mengorganisir kelompok “Arisan Rumah”. Iwan menjadi koordinator (ketua) “Arisan Rumah” di desanya. Sebelum kelompok ini dibentuk, warga desa dikumpulkan untuk mencari solusi memperbaiki rumah warga yang masih berdinding papan atau geribik bambu dan berlantai tanah.

“Kini sudah ada belasan warga desa yang bisa membangun rumah permanen yang memenuhi syarat kesehatan berkat arisan rumah. Rumah milik Iwan termasuk rumah hasil arisan tersebu,” kata Iwan.

Menurut Iwan, dalam arisan rumah yang penting semata-mata bukan hanya penduduk miskin bisa memiliki rumah yang sehat. “Yang terpenting adalah terus terpeliharanya semangat kegotongroyongan warga desa. Kalau warga desa hidup rukun dan bisa saling membantu, mudah-mudahan tidak akan ada lagi warga miskin di desa kami. Apalagi kami juga bisa memanfaatkan hasil hutan yang selama ini sudah kami pelihara bersama-sama,” ujarnya.